Menghakimi Pelaku Kriminal,Haruskah..?

Jambret-dihajar-wargaTindak kriminal memang sangat marak di negara kita ini. Dari yang terkecil semisal maling jemuran atau sendal jepit sampai tindak pidana Korupsi     😉    . Kita persempit saj ceritanya ke arah tindak pelaku curanmor. Sering kita mendngar berita kemalangan para pelaku curanmor yang terpergok warga dan berakhir dengan tragis.Dari yang pasti pasti saja yaitu di hajar sampai babak belur,hingga yang paling ekstrim yaitu DIBAKAR     🙁   

motor-dibakarTindakan massa yang sebegitu brutal memang mencerminkan akumulasi kekesalan terhadap para pelaku curanmor yang sangat sangat menjengkelkan. Sering terjadi dan mereka ( para pelaku kejahatan ) tidak pernah pandang bulu… Dan kejengkelan warga itu tertumpahkan ketika menjumpai pelaku kejahatan yang terpergok dan tertangkap.

Baca Juga :  Ada Maling Motor Spesialis Kawasaki Ninja 2 T dan Suzuki Satria FU

Mas Sayur jadi ingat wejangan Pak Guru ketika SD dulu.. ” JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI..,NEGARA INI NEGARA HUKUM…SERAHKAN SAJA PADA YANG BERWAJIB”. sebuah kalimat yang simpel dan mudah di ucapkan dan memang ITOE BETOEL ADANJA **PINJEM ISTILAHNYA KANG HERI     😀    Tapi ketika masyarakat sudah mengetahui rahasia umum jikapara pelaku kejahatan sering di ganjar hukuman ringan dan sebagian ada yang kemudian bebas dengan berbagai macam “kong kalikong” tutup mata rogoh kantong   menimbulkan kepercayaan masyarakat kepada yang di sebut “pihak yang berwajib” menjadi berkurang alias pesimis.

Baca Juga :  Motor yang Hilang itu Ketemu Secara Tak Sengaja

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi ketika ngeluyur di Youtube dan menemukan MALING MOTOR DI BAKAR… Seperi apa videonya..? silahkan tonton sendiri,terus terang,Mas Sayur nggak berani nonton…

Advertisements

24 tanggapan untuk “Menghakimi Pelaku Kriminal,Haruskah..?

  • Agustus 24, 2013 pada 9:45 am
    Permalink

    ya di satu sisi gak setuju juga karena emang kejahatan mereka “kadang” tidak seharusnya diganjar dengan hukuman seperti itu, tapi disisi lain memang dalam suatu komunitas/masyarakat mindset penjahat ya sama aja, g peduli kejahatannya kelas ringan atau berat yang penting itu kejahatan dan amarah yang meledak2 itupun kayaknya cuma biar sok dilihat sangar atau gimana juga gak ngerti. itupun kalau rame2, coba kalau sendiri. tapi ya sudah menjadi kebiasaan mas, setiap kumpulan orang itu punya cara macem – macem buat nanggapi hal kayak gini (hayah dowo eram komenq yak 😛 )

    Balas
    • Agustus 24, 2013 pada 9:51 am
      Permalink

      tapi kalau misalnya..**misalnya lho ya… sampeyan yg jadi korban gimana..? 😉

      Balas
      • Agustus 24, 2013 pada 10:06 am
        Permalink

        ya itu tadi, dalam setiap komunitas/masyarakat pasti ada lah rasa mangkel dan mungkin seperti yang sampeyan tulis diatas bisa saja terjadi. tapi lek misal aq pun yang jadi korbannya kalau masalah / barangnya sepele (menurut ukuran saya) ya gak bakal sampek brutal kayak gitu paling tak sampluk gir motor tok 😛

        Balas
        • Agustus 24, 2013 pada 10:09 am
          Permalink

          waduh…sampluk gir tiger podo karo modiaar.. 😀

          Balas
          • Agustus 24, 2013 pada 10:18 am
            Permalink

            xixixixi ndak mas, aq wonge gak segarang kui kok. wong sandalku dijimuk wong pas nek ngarepanq wae tak jarne wae, bukane jirih utowo opo. positif thinking wae bek menowo wong kui mau nyang masjid gak gawe sandal (padahal nek ati nelongso kelangan duwit 10ewu nggo tuku sandal anyar) 😀

          • Agustus 24, 2013 pada 10:23 am
            Permalink

            wkwkwk…ikhlaskan saja siapa tahu dia si pencuri mmg nggak punya sendal itung itung investasi akhirat 😀

  • Agustus 24, 2013 pada 11:09 am
    Permalink

    kalo cuma merampas tanpa tindakan kekerasan sih mending pakdhe,sekarang perampasan itu ga pake ngomong langsung bacok , dan hal ini terjadi 3x hal seperti ini dalam seminggu di desaku, 2 selamat walaupun cacat seumur hidup karena 3 jari kiri ditebas pake golok 1 opname karena gegar otak , dan yg gegar otak itu anaknya aparat,sooo kalo ketangkep pasti bakal di “BOLONGI” tuch , mbuh bolong sikil’e atau bolong ndase ,hahahahahahahaha 😀

    Balas
  • Agustus 24, 2013 pada 4:34 pm
    Permalink

    ditelanjangi, diikat di pohon, dikasih semut rang-rang atau ulat bulu

    aza menurutku 😈 :mrgreen:

    Balas
    • Agustus 24, 2013 pada 4:55 pm
      Permalink

      wkwkwk….
      atau setelah di ikat,di gelitik rame rame sampe lemes :mrgreen: *hayah…. lha koq enak… 😀

      Balas
  • Agustus 24, 2013 pada 9:51 pm
    Permalink

    kurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum

    Balas
  • Agustus 24, 2013 pada 10:11 pm
    Permalink

    Beberapa bulan yang lalu gak jauh dari kampung mas Sayur, 2 maling motor dihukum mati oleh masyarakat. Mereka diduga sudah sering mencuri motor di daerah Jember selatan. maling yg satu sakti ditebas golok, clurit dll gak mempan. Akhirnya dilempari batu gede2 ya tewas juga. Ini cerita adik saya yg tinggal di sana lho..

    Balas
  • Agustus 25, 2013 pada 2:14 pm
    Permalink

    saya pernah ngobrol sama pak pulisi
    katane maling motor itu malah senang kalo di tangkap aparat hukum. aman. coba kalo ketangkap massa. habis itu maling. trus begimana ya ?

    Balas
  • Agustus 26, 2013 pada 12:57 pm
    Permalink

    saya lebih setuju di dipukuli saja sampe bonyok, terus diiket di pohon selama seharian

    lebih puas ngeliatnya, daripada dibakar, kasihan gak diberi kesempatan untuk bertaubat

    Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: