Ojek…,Sampai Kapan..??

20130526_103649

Dertan motor para tukang ojek di saah satu sudut pasar Youtefa Abepura,Jayapura. Sebagian besar nganggur menunggu penumpang   

Tak di pungkiri,tukang ojek sampai saat ini masih banyak di sekitar kita.Apalagi di kota besar. Faktor kemudahan dan kepraktisan mungkin yang menjadikan masyarakat memilih ojek daripada angkutan masal yang lain,walaupun biasanya ojek bertarif lebih mahal dari angkutan umum,dan soal keamanan resikonya sich memng lebih aman angkot.

tukang ojek di perbatasan RI - Papua New Guenea.. gambar nyomot dari kompasiana.com.. soalnya mas sayur belum pernah ke sana   :D   padahal cuma 3 jam perjalanan naik motor   :-(
tukang ojek di perbatasan RI – Papua New Guenea.. gambar nyomot dari kompasiana.com.. soalnya mas sayur belum pernah ke sana 😀 padahal cuma 3 jam perjalanan naik motor 🙁

Oke..sebuah pemikiran agak nyleneh di benak Mas Sayur.apakah ojek ini akan terus ada nantinya ketika mayoritas penduduk sudah mempunyaikendaraan pribadi..? baik roda dua ataupun roda 4..? Dari pengamatan Mas Sayur di Jayapura,abepura khususnya,para pemakai jasa ojek ini mayoritas adalah warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi,ataupun para pendatang yang baru tiba di Jayapura dan belum memiliki kendaraan sendiri. Tak di pungkiri memang,pendapatan para tukang ojek di Jayapura ini bisa di bilang menggiurkan. Dari pengakuan seorang teman yang sudah 5 tahun berprofesi ‘HANYA SEBAGAI TUKANG OJEK’ ,duluu..waktu masih ramai dan kendaraan pribadi sulit di dapatkan (motor second hand susah di dapat,harus beli baru ),dia mengaku pendapatannya sehari bisa menyentuh angka 400 rb   😯   Namun kini,seiring semakin banyaknya motor baru yang mudah di dapat dengan DP ringan dan semakin banyaknya tukang ojek yang beroperasi,pendapatannya menyusut hingga sekitar 60%   🙁   Memprihatinkan..belum lagi resiko besar yang bisa di hadapi oleh setiap tukang ojek. Resiko macam apa..?  Mas Sayur nggak akan bercerita terlalu jauh,jika ingin tahu,klik saja disini  atau di sini.

Baca Juga :  Motor = Istri kedua...??? Ah...yang benar saja..

Nah..bagaimana dengan di kota-kota besar di pulau Jawa..? Sepengetahuan Mas Sayur di kota  tempat tinggal Mas sayur di Jember Jawa Timur,belum pernah menemui yang namanya tukang ojek dan tidak pernah ada namanya pangkalan ojek,mengapa..? Jika hanya hendak bepergian dekat dan tak memiliki kendaraan mungkin akan cukup meminjam kendaraan milik tetangga   😳   Jika mau bepergian jauh mungkin akan memilih angkot jika tak punya kendaraan pribadi.

Baca Juga :  Nyiprat,broooo :-(

Untuk di kota lain,yang pernah Mas Sayur tinggal di sana,Denpasar Bali misalnya,di sana Ojek malah menjadi prioritas daripada angkot,dengan alasan yang sama dengan di Jakarta,macet di jalan raya akan menambah stress jika harus naik angkot bahkan Taksi mewah sekalipun.Itu duluuu..sekitar 5 tahun yang lalu..

Lalu bagaimana di kota anda..? apakah masih ada ojek..?  dan menurut anda dengan makin mudahnya orang mendapatkan motor,yang berakibat semua orang bisa memiliki motor,apakah ojek ini nantinya akan lenyap..? Dan Masih tertarik kah dengan ojek..?

Baca Juga :  [Kuliner] Menu Pembangkit Selera Makan Part 2

ojek cewek moge

picture from : assets.kompas.com

Advertisements

16 tanggapan untuk “Ojek…,Sampai Kapan..??

  • Mei 26, 2013 pada 12:34 pm
    Permalink

    mudahnya memiliki motor, justru membuat semakn banyak tukang ojek. imho

    Balas
    • Mei 26, 2013 pada 12:37 pm
      Permalink

      terus kalau smua punya motor,penumpange sopo..? 😉

      Balas
      • Mei 26, 2013 pada 12:41 pm
        Permalink

        tukang ojek makin banyak, tapi penumpangnya makin sedikit 😀

        Balas
      • Mei 26, 2013 pada 4:12 pm
        Permalink

        kemungkinan terbesar jadi penumpang :
        1. anak.. (sendiri)
        2. istri.. (sendiri )
        3. saudara.. (sendiri)

        yg kadang2 jadi penumpang :
        1. Tetangga
        2. Anak (orang)
        2. Istri (orang)
        :mrgreen:

        :

        Balas
  • Mei 26, 2013 pada 1:55 pm
    Permalink

    kalau dikota ramainya becak, kalau dikampung ojek, terutama sore hari pas angkot sudah berhenti narik penumpang

    Balas
    • Mei 26, 2013 pada 7:25 pm
      Permalink

      woh..di kampung ada ojek..berarti bukan kampung-kampung amat,dong..

      Balas
    • Maret 3, 2014 pada 3:39 pm
      Permalink

      Ojek tidak akan pernah hilang..

      karena kalaupun kita punya kendaraan dirumah tetap saja kita membutuhkannya pada saat2 tertentu..

      Balas
  • Mei 27, 2013 pada 10:08 am
    Permalink

    d bungur (terminal surabaya) sik akeh kang 😀 aq sering menggunakan jasanya klo ada tugas keluar kota. rata2 penggunanya para pendatang yg stay 1-3 hari aja (maklum klo naik taxi kemahalan) 😀
    klo mengharap dr penduduk lokal ya berat. karena rata2 1 rumah ada 1 motor.

    Balas
    • Mei 27, 2013 pada 11:51 am
      Permalink

      ya..ya..ya.. *sambil manggut manggut karo nyruput kopi.. 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: