Bertani itu Berat.., Tapi Nikmat….

Tepatnya ada kepuasan tersendiri,itulah yang saya rasakan selama menjadi petani dan sangat terasa ketika sudah beralih profesi tidak bertani lagi. Memang berat dan memerlukan fisik yang kuat,dan stamina yang prima.Namun, ketenangan batin yang tak bisa di gambarkan sangat terasa di banding profesi yang lain.

wajah wajah dekil tapi penuh kepuasan dan keceriaan..

Siapa sih yang nggak senang melihat hamparan padi hijau yang luas, lalu menguning dan saat saat panen..? Para petani itu menurut saya adalah pribadi yang pantang menyerah dan tegar..Walaupun kadang hasilnya diluar ekspektasi,harga komoditi di bawah harapan ,namun mereka tak putus asa,bertanam lagi dengan semangat dan harapan yang tinggi.

Baca Juga :  Harga All New CBR150R Jayapura,35 jt "lebih dikit"... Ratjoen Tenan... ;-)
alay atau bukan..? coba di jawab…!

Mohon ma’af jika artikel ini agak keluar dari tema dan agak emosional,namun saya berusaha mengungkap fakta yang ada di sekitar yang setiap hari saya temui dan pernah saya rasakan..

Petani adalah penyangga utama ketahanan pangan bangsa ini,Tanpa petani ย mau makan apa para konglomerat,para pemilik industri besar..? Semua makanan yang tersedia di restoran mahal dan bersih,di hotel mewah dan berbintang ,itu berasal dari lahan pertanian yang kadang di anggap kotor dan sering di hindari oleh orang orang yang mengaku dirinya ‘orang kota’..

Baca Juga :  Jika Anda Adalah Polisi ini,Apa yang Anda Lakukan..?
Advertisements

20 tanggapan untuk “Bertani itu Berat.., Tapi Nikmat….

  • Oktober 6, 2012 pada 11:55 am
    Permalink

    kalau menurut saya, petani itu pekerjaan mulia
    soale nek gak ada pak tani, ya saya gak bisa makan nasi goreng ๐Ÿ˜€

    Balas
    • Oktober 6, 2012 pada 12:08 pm
      Permalink

      bukan cuma nasi goreng,lontong balap pun nggak ada.. ๐Ÿ˜€

      Balas
  • Oktober 6, 2012 pada 3:04 pm
    Permalink

    marai kangen kampung li,,,wis wayahe ulur pari ki lik ning kampungku,,soale wis mulai udan,,,kangen ndeso

    Balas
  • Oktober 7, 2012 pada 9:18 am
    Permalink

    Saya dulu juga bertani, pa’e.
    Memang tenteram jadi petani. Yg dimakan nggak jauh2 dari halaman rumah. Dulu Bapak saya punya sawah, pohon kelapa, sawo, klengkeng. Nasi dari sawah, goreng lauk dari minyak kelapa buatan sendiri, gula dari tebu sendiri. Sayur tinggal metik dari halaman. Tiap bulan saya jualan kelapa naik sepeda onthel. Beras nggak pernah kekurangan, hasil panen dijual buat biaya sekolah.
    Setelah Bapak meninggal, anak2nya nggak ada yg mau jadi petani. Semuanya milih jadi kuli termasuk saya, he he.

    Balas
    • Oktober 7, 2012 pada 9:38 am
      Permalink

      yah..itulah pola hidup kebanyakan petani,Pak.. Bapak beruntung mungkin sekarang tinggal menikmati hasil kerja keras dulu.

      Balas
  • Oktober 7, 2012 pada 9:20 am
    Permalink

    aq bangga menjadi petani dan bisa berbagi ilmu dengan petani.hehehehe..

    setiap kali ke sawah mesti ditawari, monggo pinarak mas, lah klo sudah mampir ke rumahnya, dikasi kopi, makan, ditawari rokok. padahal sy nggak ngopi dan ngrokok, akhirnya biar aman saya selalu sangu rokok Marlboro yang enteng. tau sendiri khan rokoknya petani kita berat2.wekekekek..

    bertukar pikiran tentang pertanian, kehidupan dan hal lainnya membuat saya selalu betah berlama-lama…

    cuman ya kadangkala kita harus bijak terhadap semua curhat dan keluhan mereka.

    Balas
    • Oktober 7, 2012 pada 9:40 am
      Permalink

      yg penting bisa menempatkan diri,mas..mediator saja..teman2 petani sudah sangat senang.

      Balas
  • Oktober 7, 2012 pada 11:42 am
    Permalink

    coba kalo hasil tani tu bener” dihargai yg pantes biar petani gak sengsara,,,pst saya mau bertani,,,lah kesel” tani giliran adol hasile ra imbang karo kesele,,,,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: